Manusia Produk Imitasi

Kalimat diatas pertama kali gue denger waktu  belajar bahasa ingris di Pare, Kediri. Gue pikir imitasi yang dimaksud adalah  menjiplak karya orang lain, copy paste sembarangan karya orang lain, dan berbagai hal lain yang masih sejenis. Setelah gue mendengarkan penjelasan tutor gue tentang kalimat itu, barulah gue paham. 

Manusia cenderung mengimitasi atau meniru apa yang dia lihat. Salah satu contohnya adalah mengimitasi sikap orang lain.  Mungkin gue atau kalian gk pernah sadar, kapan kita meniru sikap dari orang lain. Disadari atau tidak, sifat yang ada pada diri kita merupakan kumpulan dari beberapa sifat yang telah kita imitasi. Tutor gue bilang, sifat yang ada didiri kita bisa berasala dari ayah, ibu, saudara, atau bahkan dari orang yang kita kagumi.

Gue gk terlalu suka keramaian, lebih seneng mendekam di ruang pribadi gue, ntah kamar atau rumah, yang penting gue nyaman. Setelah gue telisik lagi, hal itu gue dapet dari ayah. Beliau gk terlalu suka dengan keramaian seperti itu, yapss sama kaya gue. Bukan berarti anti sosial, tapi ada ditempat keramaian kadang bikin tenaga gue habis, itu gue entah kalian bagaimana. 

Tipe-tipe pemikir, pengennya sekali dayung kerjaan selesai semua, biar gk banyak pikiran, semua harus terjadwal, terstrukur, tersusun, kalo ada hal diluar rencana biasanya rada gk suka. Ini sama banget kaya si Ibu. Kami adalah tipe orang yang apa-apa harus direncanakan, dan kalo ada yang diluar rencana,  biasanya gue pikirin sampe kepala gue pusing, rada lebay emang, tapi nyatanya emang kaya gitu. 

Gue pernah punya mimpi keluar negeri entah lanjut kuliah, program exchange dalam kurun waktu tertentu, atau sekedar ikut suatu event. Sampai sekarang gue masih mimpi, mimpi terus belum ada progress buat jadi kenyataan, karena gue masih stuck ditempat. Gue berkiblat dari salah satu dosen dikampus gue yang S2 di luar negeri, masih muda, cantik, smart, dan yahh gue sangat senang dikelas beliau. Dari yang awalnya memimpikan hal yang pernah beliau capai, gue secara gk sadar mengikuti cara berpakaian beliau, tidak disengaja, hal itu kaya ngalir tanpa gue kendalikan. Hal itu juga terjadi waktu gue mengidolakan dosen gue yang lain, masih dosen cewe, cantik, pakaian syar'i, dan beliau sering memberikan kalimat-kalimat membangun yang berkaiatan dengan islam ketika proses perkuliahan. Secara tidak langsung gue mulai mengikuti gaya berpakaian beliau. 

Begitu juga dengan sikap atau sifat lain yang ada didiri gue, gk ada yang benar-benar berasal dari diri gue. Setiap sikap yang gue tampilkan sehari-hari bisa jadi cerminan dari sikap-sikap yang sudah gue imitasi sebelumnya. Itu gue, entah kalian bagaimana. Mungkin kalian yang kebetulan baca blog ini, bisa mengidentifikasi dari mana sifat-sifat kalian berasal.


















Komentar